Perkenalan
Profil
Foto : Eddi Suarez
Nama saya Frederikus
Mona Meli, S.Pd, seorang pendidik yang saat ini mengabdi di SMPS Katolik Kotagoa Boawae. Saya
menempuh pendidikan tinggi di Universitas Flores Ende, Fakultas Keguruan dan
Ilmu Pendidikan, Program Studi Pendidkan Bahasa dan Sastra Indonesia, dan lulus
pada tahun 2014. Sejak masa kuliah, saya memiliki cita-cita untuk menjadi
seorang guru SMP, khususnya mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia. Namun,
setelah kelulusan, perjalanan saya untuk meniti karier di dunia pendidikan
tidak berjalan semudah yang dibayangkan.
Kesempatan mengajar di SMP pada waktu itu sangat terbatas,
sedangkan jumlah lulusan sarjana pendidikan semakin banyak. Kondisi ini membuat
saya harus berpikir lebih fleksibel. Alih-alih menunggu kesempatan mengajar di
SMP, saya menerima tawaran mengajar di salah satu sekolah dasar di Kecamatan
Boawae.
Awal
Mengajar di Sekolah Dasar
Selama kurang lebih lima tahun sejak lulus kuliah, saya
mengabdi di sekolah dasar. Tugas mengajar di sekolah dasar sesungguhnya
bukanlah bidang yang sesuai dengan latar belakang pendidikan saya. Saya bukan
lulusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Namun, karena dorongan untuk
tetap berkarya di bidang pendidikan, saya menerima tawaran tersebut dengan
penuh tanggung jawab.
Pada awalnya, mengajar di sekolah dasar memberikan
pengalaman yang berharga. Saya belajar banyak tentang kesabaran, kreativitas,
dan pendekatan pembelajaran yang berbeda dari apa yang saya pelajari di bangku
kuliah. Murid-murid sekolah dasar memiliki karakteristik yang unik, penuh
energi, dan membutuhkan perhatian ekstra. Di situlah saya melatih kemampuan
komunikasi, membangun kedekatan emosional dengan siswa, serta menemukan
cara-cara baru agar materi dapat dipahami dengan mudah.
Walaupun demikian, saya menyadari bahwa bidang ini tidak
sepenuhnya sejalan dengan keilmuan saya. Saya tetap menyimpan harapan besar
agar suatu saat bisa mengajar di tingkat SMP, tempat di mana saya bisa
menerapkan ilmu secara lebih tepat sesuai bidang keahlian.
Titik
Balik pada Tahun 2019
Tahun 2019 menjadi momen penting dalam perjalanan hidup saya
sebagai pendidik. Saat itu, saya membaca sebuah pengumuman bahwa SMPS Katolik Kotagoa Boawae sedang
membuka lowongan untuk tenaga pengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia.
Pengumuman ini saya temukan melalui sebuah postingan. Hati saya langsung
tergerak karena inilah kesempatan yang selama ini saya nantikan.
Tanpa pikir panjang, saya menyiapkan berkas lamaran dan
memberanikan diri untuk mengikuti seleksi. Jujur, pada saat itu saya merasa
sedikit canggung. SMPS Katolik Kotagoa Boawae dikenal sebagai salah satu
sekolah yang disiplin, tertib, dan berprestasi. Saya bertanya dalam hati:
“Apakah saya mampu menyesuaikan diri dengan standar tinggi sekolah ini?”
Namun, keyakinan untuk mencoba lebih kuat daripada rasa
canggung. Saya menyadari bahwa kesempatan tidak datang dua kali, dan jika saya
tidak mencoba, maka saya akan terus berada dalam keraguan.
Proses
Seleksi dan Awal Pengabdian
Proses seleksi masuk di SMPS Katolik Kotagoa Boawae cukup
ketat. Ada beberapa tahap yang harus dilalui, mulai dari seleksi administrasi,
tes akademik, tes keterampilan lain (saat
itu test kemampuan Master of Cheremoni), hingga wawancara. Setiap tahap
menjadi pengalaman yang mendebarkan bagi saya, karena saya sangat berharap bisa
diterima.
Puji Tuhan, setelah melewati seluruh proses tersebut, dan
selang beberapa minggu kemudia saya dinyatakan lulus seleksi. Saat menerima
kabar itu, saya merasakan kebahagiaan sekaligus tantangan baru. Bahagia karena
akhirnya bisa mengajar sesuai bidang keahlian saya, dan tertantang karena harus
membuktikan bahwa saya pantas berada di lingkungan sekolah yang memiliki
reputasi baik ini.
Hari pertama masuk di SMPS Katolik Kotagoa Boawae menjadi
pengalaman yang tidak terlupakan. Lingkungan sekolah yang tertib dan teratur,
budaya disiplin yang kuat, serta interaksi yang profesional membuat saya merasa
seolah memasuki dunia baru. Pada awalnya, saya masih merasa kaku, namun
sambutan hangat dari rekan-rekan guru membantu saya untuk segera beradaptasi.
Apalagi saat itu sedang persiapan kegiatan Kotagoa
Expo, saya harus membuktikan hasil tes sebagai master of cheremoni dengan memandu acara ini. Sungguh pengalaman
pertama yang menuntut saya harus segera beradaptasi di sekolah ini dalam
suasana yang masih asing.
Menemukan
Kenyamanan dan Semangat Baru
Seiring berjalannya waktu, saya semakin menemukan kenyamanan
dalam mengajar di SMPS Katolik Kotagoa Boawae. Hal ini tidak terlepas dari
kerja sama tim yang solid di antara para guru. Kami saling mendukung, berbagi
pengalaman, dan bekerja sama dalam merancang program akademik maupun non
akademik.
Tim kerja yang solid ini menciptakan suasana yang kondusif
bagi pengembangan diri saya sebagai guru. Saya belajar bahwa menjadi guru bukan
hanya soal menyampaikan materi, melainkan juga tentang membentuk karakter
siswa, memotivasi mereka, serta mendampingi dalam pengembangan minat bakat
sesuai potensi yang saya miliki.
Mengajar di sekolah ini juga membuat saya semakin menyadari
bahwa disiplin adalah kunci keberhasilan. Budaya sekolah yang tertib dan
teratur mendorong saya untuk lebih konsisten dalam menjalankan tugas, lebih
teliti dalam mempersiapkan pembelajaran, dan lebih berkomitmen dalam mendidik
siswa.
Refleksi
atas Perjalanan Karier
Ketika melihat kembali perjalanan karier saya, saya merasa
bahwa pengalaman mengajar di sekolah dasar bukanlah kesalahan, meskipun
bidangnya tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan saya. Justru, pengalaman
itu memberikan bekal berharga untuk menghadapi tantangan mengajar di SMP.
Kesabaran, ketekunan, dan kreativitas yang saya pelajari di sekolah dasar
menjadi modal penting dalam berinteraksi dengan siswa SMP.
Kini, setelah beberapa tahun mengabdi di SMPS Katolik
Kotagoa Boawae, saya semakin yakin bahwa pendidikan adalah panggilan hidup
saya. Saya menemukan kepuasan batin ketika melihat siswa memahami pelajaran,
termotivasi untuk belajar, dan tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.
Pengalaman mengajar di SMPS Katolik Kotagoa Boawae adalah
anugerah besar dalam hidup saya. Dari awal yang penuh keraguan hingga kini
merasa nyaman, perjalanan ini mengajarkan saya banyak hal: bahwa ketekunan akan
selalu membuahkan hasil, bahwa keberanian mencoba akan membuka jalan, dan bahwa
kerja sama tim adalah fondasi dari keberhasilan bersama.
Saya bersyukur karena akhirnya bisa mengabdi di sekolah yang
sesuai dengan bidang keahlian saya, dengan lingkungan yang mendukung
perkembangan diri dan profesionalisme. Harapan saya ke depan adalah terus
berkontribusi bagi kemajuan sekolah ini, membimbing siswa dengan sepenuh hati,
serta menjaga semangat pengabdian sebagai seorang pendidik.
Dengan semangat itu, saya percaya bahwa mengajar bukan
sekadar pekerjaan, melainkan panggilan untuk membentuk generasi yang
berkarakter, cerdas, dan berdaya guna bagi bangsa dan negara. Eddi
Suarez (2/9/2025)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar