Selasa, 02 September 2025

DARI KERAGUAN MENJADI KEBANGGAAN: KISAH PENGABDIAN DI SMPS KATOLIK KOTAGOA BAOAWE

 




Perkenalan Profil

                                                

                                                                     Foto : Eddi Suarez

Nama saya Frederikus Mona Meli, S.Pd, seorang pendidik yang saat ini mengabdi di SMPS Katolik Kotagoa Boawae. Saya menempuh pendidikan tinggi di Universitas Flores Ende, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Program Studi Pendidkan Bahasa dan Sastra Indonesia, dan lulus pada tahun 2014. Sejak masa kuliah, saya memiliki cita-cita untuk menjadi seorang guru SMP, khususnya mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia. Namun, setelah kelulusan, perjalanan saya untuk meniti karier di dunia pendidikan tidak berjalan semudah yang dibayangkan.

Kesempatan mengajar di SMP pada waktu itu sangat terbatas, sedangkan jumlah lulusan sarjana pendidikan semakin banyak. Kondisi ini membuat saya harus berpikir lebih fleksibel. Alih-alih menunggu kesempatan mengajar di SMP, saya menerima tawaran mengajar di salah satu sekolah dasar di Kecamatan Boawae.

Awal Mengajar di Sekolah Dasar

Selama kurang lebih lima tahun sejak lulus kuliah, saya mengabdi di sekolah dasar. Tugas mengajar di sekolah dasar sesungguhnya bukanlah bidang yang sesuai dengan latar belakang pendidikan saya. Saya bukan lulusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Namun, karena dorongan untuk tetap berkarya di bidang pendidikan, saya menerima tawaran tersebut dengan penuh tanggung jawab.

Pada awalnya, mengajar di sekolah dasar memberikan pengalaman yang berharga. Saya belajar banyak tentang kesabaran, kreativitas, dan pendekatan pembelajaran yang berbeda dari apa yang saya pelajari di bangku kuliah. Murid-murid sekolah dasar memiliki karakteristik yang unik, penuh energi, dan membutuhkan perhatian ekstra. Di situlah saya melatih kemampuan komunikasi, membangun kedekatan emosional dengan siswa, serta menemukan cara-cara baru agar materi dapat dipahami dengan mudah.

Walaupun demikian, saya menyadari bahwa bidang ini tidak sepenuhnya sejalan dengan keilmuan saya. Saya tetap menyimpan harapan besar agar suatu saat bisa mengajar di tingkat SMP, tempat di mana saya bisa menerapkan ilmu secara lebih tepat sesuai bidang keahlian.

Titik Balik pada Tahun 2019

Tahun 2019 menjadi momen penting dalam perjalanan hidup saya sebagai pendidik. Saat itu, saya membaca sebuah pengumuman bahwa SMPS Katolik Kotagoa Boawae sedang membuka lowongan untuk tenaga pengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia. Pengumuman ini saya temukan melalui sebuah postingan. Hati saya langsung tergerak karena inilah kesempatan yang selama ini saya nantikan.

Tanpa pikir panjang, saya menyiapkan berkas lamaran dan memberanikan diri untuk mengikuti seleksi. Jujur, pada saat itu saya merasa sedikit canggung. SMPS Katolik Kotagoa Boawae dikenal sebagai salah satu sekolah yang disiplin, tertib, dan berprestasi. Saya bertanya dalam hati: “Apakah saya mampu menyesuaikan diri dengan standar tinggi sekolah ini?”

Namun, keyakinan untuk mencoba lebih kuat daripada rasa canggung. Saya menyadari bahwa kesempatan tidak datang dua kali, dan jika saya tidak mencoba, maka saya akan terus berada dalam keraguan.

Proses Seleksi dan Awal Pengabdian

Proses seleksi masuk di SMPS Katolik Kotagoa Boawae cukup ketat. Ada beberapa tahap yang harus dilalui, mulai dari seleksi administrasi, tes akademik, tes keterampilan lain (saat itu test kemampuan Master of Cheremoni), hingga wawancara. Setiap tahap menjadi pengalaman yang mendebarkan bagi saya, karena saya sangat berharap bisa diterima.

Puji Tuhan, setelah melewati seluruh proses tersebut, dan selang beberapa minggu kemudia saya dinyatakan lulus seleksi. Saat menerima kabar itu, saya merasakan kebahagiaan sekaligus tantangan baru. Bahagia karena akhirnya bisa mengajar sesuai bidang keahlian saya, dan tertantang karena harus membuktikan bahwa saya pantas berada di lingkungan sekolah yang memiliki reputasi baik ini.

Hari pertama masuk di SMPS Katolik Kotagoa Boawae menjadi pengalaman yang tidak terlupakan. Lingkungan sekolah yang tertib dan teratur, budaya disiplin yang kuat, serta interaksi yang profesional membuat saya merasa seolah memasuki dunia baru. Pada awalnya, saya masih merasa kaku, namun sambutan hangat dari rekan-rekan guru membantu saya untuk segera beradaptasi. Apalagi saat itu sedang persiapan kegiatan Kotagoa Expo, saya harus membuktikan hasil tes sebagai master of cheremoni dengan memandu acara ini. Sungguh pengalaman pertama yang menuntut saya harus segera beradaptasi di sekolah ini dalam suasana yang masih asing.

Menemukan Kenyamanan dan Semangat Baru

Seiring berjalannya waktu, saya semakin menemukan kenyamanan dalam mengajar di SMPS Katolik Kotagoa Boawae. Hal ini tidak terlepas dari kerja sama tim yang solid di antara para guru. Kami saling mendukung, berbagi pengalaman, dan bekerja sama dalam merancang program akademik maupun non akademik.

Tim kerja yang solid ini menciptakan suasana yang kondusif bagi pengembangan diri saya sebagai guru. Saya belajar bahwa menjadi guru bukan hanya soal menyampaikan materi, melainkan juga tentang membentuk karakter siswa, memotivasi mereka, serta mendampingi dalam pengembangan minat bakat sesuai potensi yang saya miliki.

Mengajar di sekolah ini juga membuat saya semakin menyadari bahwa disiplin adalah kunci keberhasilan. Budaya sekolah yang tertib dan teratur mendorong saya untuk lebih konsisten dalam menjalankan tugas, lebih teliti dalam mempersiapkan pembelajaran, dan lebih berkomitmen dalam mendidik siswa.

Refleksi atas Perjalanan Karier

Ketika melihat kembali perjalanan karier saya, saya merasa bahwa pengalaman mengajar di sekolah dasar bukanlah kesalahan, meskipun bidangnya tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan saya. Justru, pengalaman itu memberikan bekal berharga untuk menghadapi tantangan mengajar di SMP. Kesabaran, ketekunan, dan kreativitas yang saya pelajari di sekolah dasar menjadi modal penting dalam berinteraksi dengan siswa SMP.

Kini, setelah beberapa tahun mengabdi di SMPS Katolik Kotagoa Boawae, saya semakin yakin bahwa pendidikan adalah panggilan hidup saya. Saya menemukan kepuasan batin ketika melihat siswa memahami pelajaran, termotivasi untuk belajar, dan tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.

Pengalaman mengajar di SMPS Katolik Kotagoa Boawae adalah anugerah besar dalam hidup saya. Dari awal yang penuh keraguan hingga kini merasa nyaman, perjalanan ini mengajarkan saya banyak hal: bahwa ketekunan akan selalu membuahkan hasil, bahwa keberanian mencoba akan membuka jalan, dan bahwa kerja sama tim adalah fondasi dari keberhasilan bersama.

Saya bersyukur karena akhirnya bisa mengabdi di sekolah yang sesuai dengan bidang keahlian saya, dengan lingkungan yang mendukung perkembangan diri dan profesionalisme. Harapan saya ke depan adalah terus berkontribusi bagi kemajuan sekolah ini, membimbing siswa dengan sepenuh hati, serta menjaga semangat pengabdian sebagai seorang pendidik.

Dengan semangat itu, saya percaya bahwa mengajar bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan untuk membentuk generasi yang berkarakter, cerdas, dan berdaya guna bagi bangsa dan negara. Eddi Suarez (2/9/2025)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

DARI KERAGUAN MENJADI KEBANGGAAN: KISAH PENGABDIAN DI SMPS KATOLIK KOTAGOA BAOAWE

  P erkenalan Profil                                                                                                                        ...